Selamat Datang

Selamat datang di KeperawatanMedika.

Disini anda bisa menemukan hal-hal yang berkaitan dengan asuhan keperawatan kepada pasien.

Semoga bermanfaat.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Glaukoma

   I.            PENGERTIAN

Istilah Glaukoma merujuk pada kelompok penyakit yang berbeda dalam hal patofisiologi, presentasi klinis, dan penanganannya. Biasanya ditandai dengan berkurangnya lapang pandang akibat kerusakan saraf optikus. Kerusakan ini berkaitan dengan derajat TIO, yang terlalu tinggi untuk berfungsinya saraf optikus secara normal. Semakin tinggi tekanannya semakin cepat kerusakan saraf optikus tersebut  berlangsung. Peningkatan TIO terjadi akibatr perubahan patologis yang menghambat peredaran normal humor aqueus.          ( Smeltzer,Suzanne C.2001)
Glaukoma adalah sekelompok gangguan yang melibatkan beberapa perubahan atau gejala patologis yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler (TIO) dengan segala akibatnya. Saat peningkatan TIO lebih besar daripada toleransi jaringan, kerusakan terjadi pada sel ganglion retina, merusak diskus optikus, menyebabkan atrofi saraf opyik dan hilangnya pandangan perifer. (Istiqomah, Indriana. 2004)
Glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan intraokular yang disertai oleh pencekungan diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang. Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan aliran keluar humor aqueos akibat kelainan system drainase sudut kamera anterior (glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses humor aqueos ke system drainase (glaukoma sudut tertutup). Penurunan pembentukan humor aqueos adalah suatu metode untuk menurunkan tekanan intraokular pada semua bentuk glaukoma.(Vaughan,Daniel G.2000)
    II.            EPIDEMIOLOGI
Glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan di masyarakat barat. Diperkirakan di Amerika Serikat ada 2 juta orang menderita glaukoma. Di antara mereka, hamper setengahnya mengalami gangguan penglihatan, dan hampir 70.000 benar-benar buta; bertambahnya sebanyak 5500 orang tiap tahun.

 III.            ETIOLOGI
Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intra okular ini disebabkan oleh:
·         Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan siliar
·         Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil (glaukoma hambatan pupil)



 IV.            KLASIFIKASI

Glaukoma diklasifikasikan dalam dua kelompok : sudut terbuka dan penutupan sudut ( dahulu disebut sudut tertutup). Pada glaukoma sudut terbuka, humor aqueos mempunyai akses bebas ke jaring-jaring trabekula, dan ukuran sudut normal. Pada glaukoma penutupan sudut, iris menutup jarring-jaring trabekula dan membatasi aliran humor aqueos ke luar kamera anterior.  Kategori ini dibagi lebih lanjut menjadi glaukoma primer (penyebab tak diketahui biasanya bilateral dan mungkin diturunkan) dan glaukoma sekunder (penyebab diketahui)
           Klasifikasi glaukoma meliputi:
I.       Glaukoma Sudut Terbuka
a.                   Primer
b.                  Tegangan Normal
c.                   Sekunder

II.    Glaukoma penutupan sudut
A.    Primer
1.                  Dengan sumbatan pupil
a.       Akut
b.      Subakut
c.       kronik
2.                  Tanpa sumbatan pupil
B.     Sekunder
1.      Dengan sumbatan pupil
2.      Tanpa sumbatan pupil

III. Glaukoma dengan mekanisme kombinasi
IV. Glaukoma pertumbuhan/ Kongenital

Glaukoma Primer
Glaukoma sudut terbuka primer (dahulu disebut glaucoma simple atau sudut luas) ditandai dengan atrofi saraf optikus dan kavitasi mangkuk fisiologis dan defek lapang pandang yang khas. Glaukoma sudut terbuka, tekanan noramal ditandai dengan adanya perubahan meskipun TIO nmasih dalam batas parameter yang normal.
Glaukoma penutupan sudut primer adalah akibat defek anatomis yang menyebabkan pendangkalan kamera anterior. Menyebabkan sudut pengaliran yang sempit pada perifer iris dan trabekulum. Aktivitas, seperti membaca, yang memerlukan gerak lensa ke depan dan terapi miosis juga dapat merupakan factor presipitasi.

Glaukoma penutupan sudut akut merupakan keganasan medis yang cukup jarang dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan yang bermakna.  Pasien biasanya mengeluh nyeri mata yang umum dan berat. Peningkatan  tekanan mengganggu fungsi dehidrasi permukaan endotel kornea, mengakibatkan edema kornea.iris sentral biasanya melekat di atas permukaan anterior lensa, yang dapat mengakibatkan sedikit tahanan terhadap aliran humor aqueos dari kamera posterior melalui pupil ke kamera anterior. ketika aliran melauli pupil terhambat(sumbatan pupiler) oleh lensa, peningkatan tekanan di kamera posterior yang diakibatkannya kan menggembungkan iris perifer ke depan dan mengadakan kontak dengan jarring-jaring trabekula. temuan ini dinamakan iris bombe. Keadaan ini akan mempersempit atau bahkan menutup sama sekali sudut kamera anterior dan menyebabkan peningkatan TIO.
cahaya yang dilihat dari sisi lateral mata dapat memperlihatkan kamera interior yang dangkal (<3 mm) atau datar saat iris menggembung ke depan dan menyentuh permukaan dalam (endotel0 kornea. sumbatan pupiler dapat juga diakibatkan oleh sinekia posterior dimana iris melekat pada lensa, yang dapat diakibatkan oleh pembedahan penguncian sklera atau akibat lensa yang bengkak, dislokasi atau bentuknya yang tidak normal. iris dan lensa dapat saling melengket (sinekia), menghasilkanpupil ireguler dengan reaktivitasnya terhadap cahaya menurun. Konjungtiva biasanya merah menyala. pasien menderita mual dan muntah.


Glaukoma Sekunder
Dianggap sebagai sekunder bila penyebabnya jelas dan berhubungan dengan kelainan yang bertanggungjawab dan peningkatan TIO. Secara khas glaukoma jenis ini biasanya unilateral. Dapat terjadi dengansudut terbuka atau tertutup maupun kombinasi keduanya.
Pada glaukoma sudut terbuka sekunder, peningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan tahanan aliran keluar humor aqueos melauli jarring-jaring trabekuler, kanalis Schlemm, dan system vena episkleral. Pori-pori trabekula dapat tersumbat oleh setiap jenis debris, darah, pus, atau bahan lainnya. Peningkatan tahanan tersebut dapat diakibatkan oleh penggunaan kostikosteroid jangka lama, tumor intraokuler, uvetis akibat penyakit seperti herpes simpleks atau herper zoster, atau penyumbatan jarring-jaring trabekula oleh material lensa, bahan viskoelastik (digunakan pada pembedahan katarak) , darah, atau pigmen. Peningkatakan tekanana vena episkleral akibat keadaan seperti luka bakar kimia, tumor retrobulber, penyakit tiroid, fistula arteriovenosa, jugularis superior vena kava, atau sumbatan vena pulmonal juga dapat mengakibatkan peningkatan TIO. Selain itu, glaukoma sudut terbuka dapat terjadi setelah ekstrasi katarak, implantasi IO (khususnya lensa kamera anterior), penguncian sclera, vitrektomi, kapsulotomi, atau trauma.
Pada glaukoma penutupan sudut sekunder, peningkatan tahanan aliran humor aqueos disebabkan oleh penyumbatan jarring-jaring trabekula oleh iris perifer. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh perubahan aliran humor aqueos setelah menderita penyakit atau pembedahan. Keterlibatan anterior terjadi setelah terbentuknya membran pada glaukoma neovaskuler, trauma, aniridia, dan penyakit endotel. Penyebab posterior terjadi pada penyumbatan pupil akibat lensa IOL menghambat aliran humor aqueos ke kamera anterior.

Glaukoma kongenital
Glaukoma ini terjadi akibat kegagalan jaringan mesodermal memfungsikan trabekular. Kondisi ini disebabkan oleh ciri autosom resesif dan biasanya bilateral.


    V.            Patofisiologi
TIO ditentukan oleh kecepatan produksi akueos humor dan aliran keluar aqueos humor dari mata. TIO normal adalah 10-21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran keluar aqueos humor. Aqueos humor diproduksi di dalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal Schlemn ke dalam system vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar aqueos melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Peningkatan TIO mengurangi aliran darah ke saraf optik dan retina. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer  dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optic dan retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen. Tanpa penanganan, glaucoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik buta pada lapang pandang.
 VI.            GEJALA KLINIS
Glaukoma akut primer
·         Awitan gejala akut/mendadak
·         Nyeri hebat di sekitar mata yang menjalar pada daerah yang dilewati saraf oatk V
·         Nyeri kepala/dahi
·         Mual, muntah, dan ketidaknyamanan abdomen
·         Melihat lingkaran berwarna di sekitar sinar dan pandangan kabur mendadak dengan
           penurunan persepsi cahaya.
Glaukoma kronik primer
·         Bilateral
·         Herediter
·         TIO tinggi
·         Sudut COA terbuka
·         Bola mata yang tenang
·         Lapang pandang mengecil dengan macam-macam skotoma yang khas
·         Perjalanan penyakit progresif lambat
Glaukoma sekunder
·         Peningkatan nyeri dan symptom spesifik tergantung pada penyebab penyakit okuler
Glaukoma congenital
·         Fotofobia, blefarospasme, epifora, mata besar, kornea keruh

VII.            PEMERIKSAAN FISIK

·         Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan lebih dalam. Pada glaukoma akut priner, kamera anterior dangkal, aqueos humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
·         Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap.
·         Pemeriksaan fisik melalui inspeksi untuk mengetahui adanya  inflamasi mata, skelra kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya. Sedangkan dengan palpasi untuk memeriksa mata yang mengalami peningkatan TIO, terasa lebih keras dibandingkan mata yang lain.
·         Uji diagnostik menggunakan tonometri, pada keadaan kronik atau open angle didapat nilai 22-23 mmHg, sedangkan keadaan akut atau angle closure ≥ 30 mmHg. Uji dengan menggunakan gonioskopi akan didapat sudut normal pada glaucoma kronik. Pada glaucoma akut ketika TIO meningkat, sudut COA akan tertutup, sedang pada waktu TIO normal sudutnya sempit.

VIII.         THERAPY
Terapi obat merupakan penanganan awal dan utama untuk penanganan glaukoma sudut terbuka-primer. Meskipun program ini dapat diganti namun diteruskan seumur hidup. Bikla terapi in I gagal menurunkan TIO dengan adekuat, pilihan berikutnya pada kebanyakan pasien adalah trabekuloplasti laser dengan pemberian obat tetap dilanjutkan. beberapa pasien memerlukan trabekulotomi. namun pembedahan laser atau insisional biasanya merupakan anjuran bagi terapi obat dan bukannya menggantikannya.
Glaukoma penutupan-sudut akut dengan sumbatan pupil biasanya jarang merupakan kegawatan bedah. Obat digunakan untuk mengurangi TIO sebanyak mungkin sebelum iridektomi laser atau insisional.
Penanganan glaukoma sekunder dujukan untuk kondisi yang mendasarinya begitu pula untuk menurunkan tingginya TIO. Uveitis dengan glaucoma diterapi dengan bahan antiinflamasi. bahan antivirus, sikloplegik, dan kortokosteroid topical diresepkan bagi pasien glaukoma yang berhubungan dengan herpes simpleks dan herpes zoster.
Penggunaan obat dilatators pupil merupakan kontraindikasi pada pasien dengan glaukoma.  Efek samping yang biasa  terdapat pada pemakaian obat topikal adalah pandangan kabur, pandangan meremang khususnya menjelang malam dan kesulitan memfokuskan pandangan. kadang-kadang frekuensi denyut jantung dan respirasi juga terpengaruh. Obat sistemik dapay menyebabkan rasa kesemutan pada jari dan jari kaki, pusing, kehilangan nafsu makan, defekasi tidak teratur, dan kadang batu ginjal.
1.      Antagonis Beta-adrenergik
mengurangi TIO dengan mengurangi pembentukan humor aqueos.
2.      Bahan Kilonergik
Digunakan dalam penanganan glaukoma jangka pendek dengan penyumbatan pupil akibat efek langsungnya pada reseptor parasimpatis iris dan badan silinder.
3.      Agonis Adrenergik
Digunakan bersama dengan bahn penghambat beta-adrenergik, berfungsi saling sinergi dan bukan berlawanan.
4.      Inhibitor Anhidrase Karbonat
Diberikan secara sistemik untuk menurunkan IOP dengan menurunkan pembuatan humor aqueos.
5.      Diuretika Osmotik
Dapat menurun TIO dengan meningkatkan osmolalitas plasma dan menarik air dari mata ke dalam peredaran darah.


 IX.            PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksaan  glaukoma adalah menurunkan TIO ke tingkat yang konsisten dengan mempertahankan penglihatan. Penatalaksaan bisa berbeda  bergantung pada klasifikasi penyakit dan responsnya terhadap terapi. Terapi obat, pembedahan laser, pembedahan konvensional dapat dipergunakan untuyk mengontrol kerusakan progresif yang diakibatkan oleh glaukoma.
1.      Bedah laser untuk Glaukoma
Pembedahan laser untuk memperbaiki aliran humor aqueos dan menurun TIO dapat diindikasikan sebagai penangana primer untuk glaukoma, atau bisa juga dipergunakan bila terapi obat tidak bisa ditoleransi, atau tidak dapat menurunkan TIO dengan adekuat. Laser dapat digunakan pada berbagai prosedur yang berhubunag dengan penanganan glaukoma.
2.      Bedah Konvensional
Prosedur bedah konvensional dilakukan bila tehnik laser tidak berhasil, atau peralatan laser tidak tersedia, atau pasien tidak cocok untuk dilakukan bedah laser (mis. pasien yang tidak dapat duduk diam atau mengikuti perintah). Prosedur filtrasi rutin berhubungan dengan keberhasilan penurunan TIO pada 80 sampai 90% pasien.
Iridektomi perifer atau sektoral dilakukan untuk mengangkat sebagian iris untuk memungkinkan aliran humor aqueos dari kamera posterior ke kamera anterior. Diindikasikan pada penanganan glaukoma dengan penyumbatan pupil bila pembedahan laser tidak berhasil atau tidak tersedia.
Trabekulektomi (prosedur filtrasi) dilakukan untuk menciptakan saluran pengaliran baru melalui sklera. Dilakukan dengan melakukan diseksi flap ketebalan setengah (half-tickness) sklera dengan engsel di limbus. satu segmen jaringan trabekula diangkat, flap sclera ditutup kembali, dan konjungtiva dijahit rapat untuk mencegah kebocoran cairan aqueus. Trabekulektomi meningkatkan aliran  keluar humor aqueus dengan memintas strukturr pengaliran yang alamiah. Ketika cairan mengalir melalui saluran baru ini, akan terbentuk bleb (gelembung). Dapat diobservasi pada pemeriksan konjungtiva. Komplikasi setelah prosedur filtrasi meliputi hipotoni (TIO rendah yang tidak normal), hifema (darh di kamera anterior mata), infeksi, dan kegagalan filtrasi.
Prosedur seton meliputi penggunaan berbagai alat pintasan aqueus sintetis untuk menjaga kepatenan fistula pengaliran. tabung terbuka diimplantasikan ke kamera anterior dan menghubungkan dengan medan pengaliran episklera. alat ini paling sering digunakan pada pasien dengan TIO tinggi, pada mereka yang beresiko tinggi terhadap pembedahan, atau mereka yang prosedur filtrasi awalnya gagal. Kemungkinan komplikasi implant pengaliran meliputi pembentukan katarak, hipotoni, dekompensasi kornea, dan erosi apparatus.
    X.            KOMPLIKASI
·         Peningkatan TIO
Ditandai dengan nyeri okular, nyeri di atas alis dan mual. Cegah klien membungkuk, mengangkat benda berat, mengejan pada saat buang air besar, batuk dan muntah.

·         Hipotoni (penurunan TIO)
Dapat menyebabkan perdarahan koroid, atau lepasnya koroid, ditandai dengan nyeri yang dalam di dalam mata dengan awitan pasti, diaphoresis atau perubahan tanda vital.

·         Infeksi
Pantau tanda vital. Infeksi harus dicegah karena klien dapat mengalami kehilangan pandangan atau kehilangan mata itu sendiri.

·         Jaringan parut
Dapat mengurangi keefektifan jalur baru. Steroid topikal dapat digunakan karena efek samping penggunaan steroid adalah memperpanjang pemulihan luka.


B.              KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1.               Pengkajian
Anamnesis
Anamnesis mencakup data demografi yang meliputi :
·         Umur, glaukoma primer terjadi pada individu berumur > 40 tahun
·         Ras, kulit hitam mengalami kebutaan akibat glaukoma paling sedikti 5 kali dari kulit putih. (deWit,1998)
·         Pekerjaan, terutama yang berisiko besar mengalami trauma mata.
Selain itu harus diketahui adanya masalah mata sebelumnya atau yang ada saat ini, riwayat penggunaan antihistamin (menyebabkan dilatasi pupil yang akhirnya dapat menyebabkan angle-closure glaucoma), riwayat keluarga dengan glaucoma, riwayat trauma (terutama yang mengenai mata), riwayat penyakit lain yang sedang diderita (DM, arteriosklerosis, myopia tinggi)
Riwayat psikososial mencakup adanya ansietas yang ditandai dengan bicara cepat, mudah berganti topik, sulit berkonsentrasi dan sensitive; dan berduka karena kehilangan penglihatan.
Pengkajian
Ø      Aktivitas/latihan
Gejala : perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan
Ø      Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah (glaukoma akut)
Ø      Neurosensori
Gejala : penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia (glaukoma akut)
Ø      Nyeri/kenyamanan
Gejala : ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut)
Ø      Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat keluarga glaukoma, diabetes, gangguan system vaskuler
Riwayat stress, alergi, gangguan vasomotor (contoh peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin, diabetes (glaukoma)

2.               Diagnosa Keperawatan
1.      Risiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan pandangan perifer
2.      Perubahan sensori-perseptual : penglihatan berhubungan dengan kerusakan saraf akibat peningkatan tekanan intraokuler
3.      Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
4.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi
5.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
6.      Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi behubungan dengan mual, muntah sekunder akibat peningkatan tekanan intraokuler

3.               Rencana Tindakan Keperawatan
Ø      Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : - klien akan melaporkan nyeri berkurang/terkontrol/hilang
Kriteria hasil :
-          Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
-          Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan.
Intervensi
a.       Pertahankan tirah baring ketat pada posisi semi fowler dan cegah tindakan yang dapat meningkatkan TIO (batuk,bersin,mengejan)
R : tekanan pada mata meningkat jika tubuh datar dan manuver Valsalva diaktifkan seperti aktivitas tersebut

b.      Berikan lingkungan gelap dan tenang
R: stress dan sinar akan meningkatkan TIO yang dapat mencetuskan nyeri.

c.       Observasi tekanan darah, nadi dan pernapasan tiap 24 jam jika klien tidak menerima agens osmotic secara intravena dan tiap 2 jam jika klien menerima agens osmotic intravena.
R : mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

d.      Observasi derajat nyeri mata tuap 30 menit selama fase akut
R: mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

e.       Observasi asupan-haluaran tiap 8 jam saat klien mendapatkan agens osmotic intravena.
R: mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

f.       Observasi ketajaman penglihatan setiap waktu sebelum penetesan obat mata yang diresepkan.
R: mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

g.      Berikan obat mata yang diresepkan untuk glaucoma dan beritahu dokter jika terjadi hipotensi, haluaran urine < 24 ml/jam, nyeri pada mata tidak hilang dalam waktu 30 menit setelah terapi obat, tajam penglihatan turun terus menerus
R: agens osmotic intravena akan menurunkan TIO dengan cepat. Agens osmotic bersifat hiperosmolar dan dapat menyebabkan dehidrasi, manitol dapat mencetuskan hiperglikemis pada kliean DM, tetes mata miotik memperlancar drainase aqueos humor dan menurunkan produksinya. Pengontrolan TIO adalah esensial untuk memperbaiki penglihatan.

h.      Berikan analgesic narkotik yang diresepkan jika klien mengalami nyeri hebat dan evaluasi keefektifannya.
R: mengontrol nyeri. Nyeri berat akan mencetuskan maneuver Valsalva dan meningkatkan TIO
Ø      Perubahan sensori-perseptual : penglihatan berhubungan dengan kerusakan saraf akibat peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan :
Klien akan :
·         Mengidentifikasikan tipe perubahan visual yang dapat terjadi saat TIO meningkat di atas level aman
·         Mencari bantuan saat terjadi perubahan visual
·         Mendapatkan kembali dan mempertahankan visus normal dengan pengobatan.
Kriteria hasil :
-    Mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut

Intervensi
a.       Pastikan tipe/derajat kehilangan penglihatan
R: memperngaruhi harapan masa depan pasien dan pilihan intervensi

b.      Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan penglihatan
R : sementara intervensi dini mencegah kebutaan, pasien menghadapi kemungkinan atau mengalami pengalaman kehilangan penglihatan sebagian atau total. Meskipun kehilangan penglihatan telah terjadi tak dapat diperbaiki 9meskipun dg pengobatan), kehilangan lanjut dapat dicegah.

c.       Tunjukan pemberian tetes mata, contoh mebghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
R: mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lanjut

d.      Bantu pasien dalam menangani keterbatasa penglihatan
R : menurunkan bahaya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandang

e.       Kolaborasi :berikan obat sesuai indikasi : pilokarpin hidroklorida (IsotoCarpine, OcusertPilo, Pilopine HS Gel)
R: obat miotik topical ini menyebabkan konstriksi pupil, memudahkan keluarnya aqueos humor

f.       Berikan sedasi : analgesic sesuai kebutuhan
R: serangan akut glaukoma  sehubungan dengan nyeri tiba-tiba, yang dapat mencetuskan ansietas, selanjutnya meningkatkan TIO. Catatan : manajemen medic memerlukan 4-6 jam sebelum TIO menurun atau nyeri berkurang.


Ø   Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan : klien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi
Kriteria hasil :
-       Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
-       Menggunakan sumber secara efektif

Intervensi
a.    Kaji tingkat ansietas,derajat pengalaman nyeri atau timbulnya gejala tiba – tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
R:Faktor ini mempengaruhi persepsi klien terhadap ancaman diri,potensial siklus,dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO.
b.   Berikan infirmasi yang akurat dan jujur.Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan pengelihatan tambahan.
R:Menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan atau harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk melihat pilihan informasi tentang pengobatan.
c.    Dorong pasien untuk mengakuai masalah dan mengekspresikan perasaan.
R:Memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi nyata,mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah.
d.   Identifikasi sumber atau orang yang menolong.
R:Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.

Ø      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi
Tujuan : menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan
Kriteria hasil :
-    Mengidetifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit
-    Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan


Intervensi
a.       Tunjukan tekhnik yang benar untuk pemberian tetes mata.Izinkan pasien mengulang tindakan.
R:Meningkatkan keefektifan pengobatan.Memberikan kesempatan untuk pasien menunjukan kompetensi dan menanyakan pertanyaan.
b.      kaji pentingnya memepertahankan jadwal obat,contoh tetes mata.Diskusikan obat yang harus dihindari.
R:Penyakit ini dapat dikontrol,bukan diobati,dan mempertahankan konsistensi program obat adalah kontrol vital.Beberapa obat menyebabkan dilatasi pupil,dan potensial kehilangan pengelihatan tambahan,
c.       Identifikasi efek samping atau reaksi merugikan dari pengobatan,contoh penurunan selera makan,mual muntah.
R:Efek samping obat merugikan,mempengaruhi rentang dari tak nyaman sampai ancaman kesehatan berat.
d.      Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup.
R:Pola hidup tenang menurunkan respons emosi terhadap stres,mencegah perubahan okuler yang dapat yang mendorong iris kedepan yang dapat mencegah serangan akut.
e.       Dorong menghindari aktivitas,seperti mengangkat berat,mendorong.
R:Dapat meningkatkan TIO mencetuskan serangan akut.
f.       Tekankan pentingnya pemeriksaan rutin.
R:Penting untuk mengawasi kemajuan atau pemeliharaan penyakit untuk memungkinkan intervensi dini dan mencegah kehilangan pengelihatan lanjut.
g.      Nasehatkan pasien untuk melaporkan dengan cepat nyeri mata hebat,inflamasi,peningkatan fotopobia.perubahan lapang pandang,pengelihatan kabur.
R:Upaya tindakan perlu untuk mencegah kehilangan pengelihatan lanjut atau komplikasi lain seperti robek retina.
h.      Anjurkan anggota keluarga memeriksa secara teratur tanda glaukoma.
R:Kecendrungan herediter dangkalnya bilik anterior.menempatkan anggota keluarga berisiko pada kondisi ini.

Ø      Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi behubungan dengan mual, muntah sekunder akibat peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : melaporkan mual dan muntah hilang
Kriteria hasil :
-    Menunjukkan kemajuan mencapai berat badan atau peningkatan berat badan individu yang tepat

Intervensi :
a.  Perkirakan/hitung pemasukan kalori. Jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal.
R: mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi. Berfokus pada masalah membuat suasanan negate dan mempengaruhi masukan.
b.   Konsul tentang kesukaan/ketidaksukaan pasien, makanan yang menyebabkan distress, dan jadwal makan yang disukai
R: melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa control dan mendorong untuk makan.

c.    Berikan suasana menyenangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan berbau.
R: untuk meningkatkan nafsu makan/menurunkan mual

d.   Berikan kebersihan oral sebelum makan
R: mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan

e.    Tawarkan minuman seduhan saat makan, bila toleran
R: dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas. Catatan : mungkin dikontraindikasikan bila menyebabkan pembentukan gas/ketidaknyamanan gaster

f.    Kolaborasi : konsul dengan ahli diet/tim pendukung nutrisi sesuai indikasi
R : berguna dalam membuat kebutuhan nutrisi individual melalui rute yang paling tepat.

Ø      Risiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan pandangan perifer
Tujuan : menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera
Kriteria hasil :
-    Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan factor risiko dan untuk melindungi diri dari cedera
-    Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan

Intervensi :
a. Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk
R: menurunkan stres pada area operasi/menurunkan TIO

b.   Pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi
R: digunakan untuk melindungi diri dari cedera kecelakaan dan menurunkan gerakan mata

c. Observasi pembengkakan luka, bilik anterior kemps, pupil berbentuk buah pir.
R :menunjukkan prolaps iris atau rupture luka disebabkan oleh kerusakan jahitan atau tekanan mata.


4.               Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya.
Evaluasi pada pasien dengan glaukoma adalah :
1) nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
dengan KE :
-          Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan
-          Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan.
2) Perubahan sensori-perseptual : penglihatan berhubungan dengan kerusakan saraf akibat peningkatan tekanan intraokuler

dengan KE :
-          Mengidentifikasikan tipe perubahan visual yang dapat terjadi saat TIO meningkat di atas level aman
-          Mencari bantuan saat terjadi perubahan visual
-          Mendapatkan kembali dan mempertahankan visus normal dengan pengobatan.
3)  Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
dengan KE:
-          Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah
-          Menggunakan sumber secara efektif


4). Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi
dengan KE:
-          Mengidetifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit
-          Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan

5). Risiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi behubungan dengan mual, muntah sekunder akibat peningkatan tekanan intraokuler
dengan KE:
-          Menunjukkan kemajuan mencapai berat badan atau peningkatan berat badan individu yang tepat

6). Risiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan pandangan perifer
dengan KE:
-          Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan factor risiko dan untuk melindungi diri dari cedera
-          Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan


DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta : EGC
Vaughan,Daniel G.2000.Oftalmologi Umum.Jakarta : Widya Medika
Smeltzer, Suzanne C,dkk.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 vol.2. Jakarta : EGC
Istiqomah,Indriana N.2004.Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata.jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Tresna Ring Gumi

Tresna Ring Gumi
Sebagai Wahana Pecinta Alam